“Mayoritas pengurus NU di berbagai tingkatan juga banyak yang merupakan alumni pesantren besar di Kediri. Ini akan menjadi ajang silaturahmi yang sangat baik,” katanya.
Selain aspek historis, KH Basori Alwi juga menilai infrastruktur di wilayah Kediri telah berkembang dan dinilai mampu menunjang penyelenggaraan kegiatan berskala nasional.
“Fasilitas pendukung sudah semakin lengkap, mulai akses jalan, Bandara Dhoho Kediri, hingga sarana umum lainnya yang memudahkan mobilitas peserta,” ungkapnya.
Menanggapi adanya anggapan atau mitos mengenai kehadiran pejabat negara di Kediri, KH Basori Alwi berpendapat hal tersebut tidak semestinya menjadi penghalang penyelenggaraan Muktamar.
Menurutnya, apabila diperlukan, prosesi pembukaan yang dihadiri Presiden dan pejabat negara dapat dilaksanakan di daerah sekitar Kediri, sementara seluruh rangkaian persidangan dan agenda Muktamar tetap dipusatkan di pesantren yang ditunjuk.
“Kalau memang ada pertimbangan tertentu, pembukaan bisa dilakukan di daerah sekitar seperti Jombang atau Blitar. Sedangkan kegiatan inti tetap dilaksanakan di Kediri,” tuturnya.
Hingga saat ini, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) belum menetapkan lokasi penyelenggaraan Muktamar NU ke-35. Penentuan tuan rumah masih menunggu keputusan resmi PBNU melalui mekanisme organisasi yang berlaku.
Reporter: Aki M













