Menurutnya, insiden tersebut terjadi pada 3 September dan langsung ditindaklanjuti oleh Satgas MBG. Pihak yayasan juga mengaku melakukan evaluasi internal untuk mencegah persoalan serupa kembali terjadi.
“Kejadiannya pada 3 September lalu dan langsung didalami oleh Satgas MBG. Secara internal kita akan terus melakukan evaluasi mendalam. Karena kita ingin memberikan yang terbaik kepada siswa. Tidak mungkin ada unsur kesengajaan dari SPPG kami,” tegasnya.
Ketut menyatakan pembenahan akan dilakukan, terutama menyangkut prosedur operasional dan mitigasi dalam proses penyediaan makanan.
“Kita akan memperbaiki layanan, meningkatkan mitigasi barang, pokoknya kita siap meningkatkan SOP,” ujarnya.
Menunggu Kepastian Penyebab
Munculnya gejala pada 10 pelajar setelah mengonsumsi paket MBG menjadi catatan penting dalam pelaksanaan program tersebut. Namun, dugaan keracunan tidak boleh serta-merta dipastikan sebagai akibat makanan MBG sebelum terdapat hasil pemeriksaan medis maupun pengujian terhadap sampel makanan.
Karena itu, hasil pendalaman Satgas MBG dan pemeriksaan terkait keamanan pangan menjadi penting untuk mengungkap apakah terdapat kontaminasi makanan, persoalan dalam proses pengolahan dan distribusi, atau faktor lain yang menyebabkan para siswa mengalami gangguan kesehatan.
Di sisi lain, pengawasan terhadap SPPG dinilai perlu diperketat. Rantai penyediaan makanan untuk program yang menyasar pelajar menuntut standar keamanan pangan yang ketat karena kesalahan kecil dalam proses pengolahan, penyimpanan maupun distribusi dapat berdampak langsung terhadap banyak penerima manfaat.
Satgas MBG Kabupaten Kediri disebut akan meningkatkan pengawasan terhadap SPPG yang terlibat dalam rantai pasok program MBG di wilayah Kediri guna mencegah kejadian serupa kembali terjadi.
Reporter: Aji M














