Khusnul Arif juga kembali mempertanyakan terkait narasumber pemberitaan majalah Tempo itu, yang tidak jelas sumbernya.”Tempo tidak bisa menunjukkan nara sumbernya, siapa narasumbernya. Kami menduga bukan sekedar berita hoaks, tapi mencemarkan nama baik dan fitnah,” tegasnya.
Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur dari Fraksi NasDem itu mendorong DPP Partai NasDem untuk melayangkan somasi terhadap pemberitaan tersebut, kepada Tempo. Sehingga Tempo dapat memberikan klarifikasi atas pemberitaan tersebut.
“Sebagai kader Partai NasDem yang tumbuh dalam naungan pemikiran Pak Surya Paloh, saya merasa sangat tersayat dan menyayangkan cara penyajian pemberitaan tersebut. Terutama narasi “paceklik di luar kekuasaan” yang diangkat, seolah-olah menggambarkan NasDem sedang dalam kondisi “kelaparan” politik yang akut, ” tuturnya.

Padahal, lanjut Khusnul Arif, realitas yang terjadi justru menunjukkan kematangan berpolitik yang sebaliknya. Secara eksplisit, Ketua Umum NasDem Surya Paloh telah menyatakan dukungan penuh bagi pemerintahan sekarang, namun tidak menempatkan kader di dalam kabinet. “Ini adalah sebuah pilihan etis, bukan sebuah keterpurukan apalagi keputusasaan, ” tegasnya.
Bagi Khusnul Arif, Surya Paloh adalah sosok negarawan bernapas panjang yang menempatkan kepentingan bangsa di atas sekadar bagi-bagi kursi kekuasaan. “Beliau adalah figur yang memilih jalan terjal demi menjaga marwah demokrasi, menunjukkan bahwa kehormatan politik tidak diukur dari jabatan, melainkan dari keteguhan memegang prinsip, “katanya.
Di tengah hiruk-pukuk pragmatisme, sosoknya tetap berdiri sebagai benteng gagasan, seorang pemimpin yang lebih memilih setia pada etika politik daripada tunduk pada tuntutan logistik.
”Sebagai bagian dari entitas yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan, saya tetap menaruh penghormatan yang setinggi-tingginya terhadap kebebasan pers sebagai pilar sakral dalam kehidupan demokrasi kita. Namun, saya berkeyakinan teguh bahwa kemerdekaan berekspresi tersebut tidak seharusnya berdiri di ruang hampa yang bebas dari tanggung jawab,” ungkap Khusnul Arif.
Menurut Khusnul Arif, kebebasan pers yang sejati adalah kebebasan yang berdenyut seirama dengan kode etik jurnalistik dan moralitas yang luhur. “Oleh karena itu, penggambaran visual tersebut bagi saya terasa sangat kurang mencerminkan prinsip kehati-hatian serta nilai kepatutan yang seharusnya dijunjung oleh media sekaliber Tempo,” tuturnya.
Sebagai insan demokrasi yang dididik untuk terbuka, kata Khusnul Arif, bukanlah pihak yang anti terhadap kritik, karena kritik adalah vitamin bagi pertumbuhan sebuah bangsa. “Namun, kritik yang beradab haruslah disampaikan secara berimbang, proporsional, dan tidak menciptakan ruang tafsir yang bertujuan untuk merendahkan martabat kemanusiaan seseorang melalui karikatur yang mendistorsi fakta, ‘ katanya dengan nada kecewa.
Khusnul Arif berharap, agar di masa mendatang seluruh media termasuk Tempo mengedepankan profesionalisme. “Saya menaruh harapan besar agar di masa depan, seluruh media nasional, termasuk Majalah Tempo, dapat terus mengedepankan profesionalisme, prinsip keberimbangan, serta menjunjung tinggi etika dalam setiap hela napas pemberitaannya, ” pungkas Khusnul Arif.
Reporter: Aji. M













