Dianggap “Anak Durhaka” Ketua Fatayat Terusir dari Kantor NU

Kediri | pledoi.co

Dinamika politik Kabupaten Kediri semakin menghangat. Terlebih kemunculan Dewi Maria Ulfa, ST Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Kediri sebagai pendamping Hanindhito Pramono (Dito) dalam bursa Pilkada Kabupaten Kediri dianggap sebagai langkah yang ceroboh.

Langkah “slonong boy” Maria Ulfa yang mau mengikuti ambisi PKB untuk menjadi Bakal Calon Wakil Bupati, tentu tak memdapat restu dari “bapak” PC NU, Maria Ulfa lebih menut kepada PKB ketimbang kepada PC NU, sehingga Maria Ulfa dianggap sebagai “anak Durhaka”.

Bahkan dampak keberaniannya itu, Dewi Maria Ulfa terusir dari kantor PC Fatayat NU di komplek kantor PC NU Kabupaten Kediri di jalan Imam Bonjol Kota Kediri.

Kantor Fatayat di komplek kantor PC NU Jl.Imam Bonjol Kota Kediri, kini menjadi kantor RMI, IBM dan kantor PERGUNU. ( foto : aji Muhajirin)

Sebenarnya banyak kalangan menilai, kepemimpinan Dewi Maria Ulfa sebagai ketua PC Fatayat, sangat dipaksakan. Sehingga kemenangannya pada Konfercab Fatayat NU ke XXIII pada 29 September 2019 di Yayasan Pendidikan Ar Rohmah Purwotengah Kecamatan Papar Kabupaten Kediri itu sudah dalam sekenario.

Menurut salah seorang internal PC NU Kabupaten Kediri melalui akun WhatsApp +62 823-369X-XXXX mengatakan, pasca konfercab 29 September 2019, terjadi konflik internal Fatayat, karena kemenangan Dewi Maria Ulfa penuh kontroversi. “Pada hari Rabu, 10 Juni 2020 Gus Makmun juga telah mengambil kebijakan bahwa PC Fatayat nya Bu Dewi tidak boleh berkantor dan berkegiatan di PCNU jalan Imam Bonjol Kota Kediri dan diberi tenggang waktu 2 hari untuk mengosongkan kantor. Selanjutnya Kantor Fatayat diberikan kepada PERGUNU, ” katanya.

Lebih lanjut dia mengatakan, Kondisi yang sangat luar biasa ini sampai Fatayat diminta keluar dari PCNU. Karena selama ini Fatayat nya Dewi Maria Ulfa tidak bisa tawadzuk kepada PCNU, malah kepada partai. Semoga ini menjadi pembelajaran bagi kita semua, jangan sampai kita melangkahi PCNU. ” Cukuplah tinta hitam ditorehkan oleh mereka. Semoga kita selalu mendapatkan petunjuk Nya dan derek Kyai sampe mati, “tegasnya.

Sementara itu Ketua PCNU Kabupaten Kediri KH.Ma’mun Mafud saat dikonfirmasi menjelaskan, bahwa apa yang disampaikan oleh sumber itu, ia mengetahui arahnya. ” Sampean baca sendiri mas, kayaknya kok dari dhohirnya saja jelas. ” katanya.

Lebih lanjut Ketua PC NU yang akrab disapa Gus Ma’mun itu menegaskan, bahwa tidak mengusir, karena untuk efektifitas saja. Ruangan yang selama ini sebagai kantor Fatayat, kini telah dimanfaatkan menjadi kantor Persatuan Gunu Nahdlotul Ulama (PERGUNU), Ikatan Bahstul Masa’il (IBM) dan Remaja Masjid Indonesia (RMI).” Sebenarnya bukan diusir mas, mereka lebih sering di poskonya di luar. Makanya demi efektifitas saya minta untuk lembaga lain saja, RMI, IBM dan Pergunu, “tegasnya.

Ketua PC Fatayat, Dewi Maria Ulfa saat dimintai konfirmasi melalui hand phone nya 081359428XXX mengatakan, bahwa Fatayat masih berkantor di Kantor PCNU mas, dijalan Imam Bonjol, Kota Kediri, “ucapnya singkat.

Berdasarkan informasi, konflik internal itu berawal dari pasca Konfercab Fatayat NU ke XXIII pada 29 September 2019 lalu.
Saat itu mengusung 2 calon yakni Ro’aitu Nafif Laha dan Dewi Maria Ulfa.

Pada saat itu, dari hasil penghitungan suara dimenangkan Nafif dengan mayoritas suara terbanyak. Namun kemudian sidang diskors oleh pimpinan sidang dari pengurus wilayah dengan dalih waktu salat.

Begitu kembali dibuka, pimpinan sidang langsung mengumumkan Dewi Maria Ulfa sebagai pemenang, dengan alasan Nafif terganjal masalah usia.

Editor : Aji Muhajirin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *