Dua Notaris Tak Berani Datang Pada Persidangan Supadi, Ketika Akan Dikonfirmasi Wartawan, Diduga Eko Sunu Ngumpet.

Kediri | pledoi.co

Dua orang notaris Eko Sunu Djatmiko, SH, M. Kn dan Notaris Trisnawati, SH, M. Kn tidak berani datang pada sidang ke 7 kasus Supadi Kepala Desa (Kades) Tarokan di Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Kediri kemarin.

Ketidak hadiran Notaris membuat penasehat hukum Supadi, Prayoga, SH, MH dan Eryck Andhika, SH, sangat kecewa, karena kedua orang notaris itu merupakan saksi kunci dalam kasus Kades Supadi. “Kami kecewa dengan ketidak hadiran dua saksi Notaris itu, karena kesempatan untuk membuka lebar seluas-luasnya data-data dan fakta di persidangan menjadi kurang leluasa,” ucap Prayoga, SH, MH didampingi Eryck Andhika, SH dengan nada kecewa.

Keberadaan dua Notaris Eko Sunu Djatmiko, SH, M. Kn dan Trisnawati, SH, M.Kn dinilai sebagai saksi kunci karena dua alat bukti utama yang digunakan dalam kasus ini adalah akta yang dikeluarkan oleh notaris Eko Sunu dan Trisnawati, yang dengan jelas menyebutkan nama Supadi Sarjana Ekonomi, bukan Supadi SE.

Prayoga, SH, MH saat didampingi Eryck Andhika, SH, penasehat hukum Supadi menegaskan, ada kemungkinan, penyebutan Sarjana Ekonomi itu merupakan asumsi notaris sendiri bahwa SE dibelakang nama Supadi adalah singkatan dari Sarjana Ekonomi, bukan singkatan nama. Sementara di berkas-berkas lain, baik di KK maupun KTP yang berubah-ubah, hanya disebut Supadi, SE. “Bisa saja terjadi human error seperti keterangan saksi dari Dispendukcapil sebelumnya, “tegas Prayoga.

Sementara itu menurut Supadi Subiari Erlangga saat wawancara Eksklusif dengan awak media beberapa saat yang lalu menjelaskan, bahwa Notaris Eko Sunu itu minta tanda tangannya terkait akte Nomor 081 dan 082. ” Pak Eko Sunu minta tanda tangan saya terkait akte kuasa jual nomor 081 dan 082 bertempat di Balai Desa Tarokan, tanggal 2 Mei 2019 bersama Boni dari Gudang Garam (GG). Padahal tanda tangan sama Bambang Suhartono tanggal 30 April 2019, dan transfernya ke Bambang tanggal 1 Mei 2019. Saya diminta tanda tangan 2 Mei 2019 dan tidak pernah dibacakan isinya karena saat itu banyak yang harus saya tanda tangani, “ tegas Supadi.

Lebih lanjut Supadi menambahkan, semua masyarakat Desa Tarokan itu tanda tangan dengan Notaris saat penjualan lahan bandara Kediri tidak pernah datang ke Notaris Eko Sunu, tapi di rumah Sukirno, dan juga di Balai Desa Tarokan. “Saya tekankan lagi, bahwa semua tanda tangan masyarakat Tarokan saat tanda tangan dengan Pak Eko Sunu itu dilakukan di rumah Kirno atau di Balai Desa Tarokan,” tegasnya.

Usai sidang, sekitar sembilan awak media dari berbagai macam media dan LSM Kediri mendatangi kantor Notaris Eko Sunu Djatmiko, SH dijalan Imam Bonjol Kota Kediri untuk meminta konfirmasi terkait kasus tersebut.

Sayangnya Notaris Eko Sunu Djatmiko, SH diduga ngumpet, menurut Agung stafnya, Eko Sunu baru 10 menit yang lalu keluar kantor. ” Pak Eko Sunu baru saja keluar pak… “ucap Agung.

Sidang ke 7 kasus Supadi di PN Kabupaten Kediri ini dipimpin oleh majelis hakim Guntur Pambudi, SH, Melina Nawang Wulan, SH dan M. Fahmi Hary Nugroho, SH, dengan JPU Tomy Marwanto, SH dan Iskandar, SH.

Pada persidangan ke 8 yang akan digelar pada Rabu (6/5/2020) penasehat hukum Supadi meminta kepada hakim, akan menghadirkan saksi adecat dan saksi ahli.

Reporter : Abdul Khamid
Editor. : Aji Amrullah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *