Karena Survey Dhito Jeblok, Pramono Ngotot Memborong Semua Rekom Partai

Kediri | pledoi.co

Polarisasi politik yang akan dibangun keluarga besar Pramono Anung, bila rekom PDIP diberikan kepada Hanindhito Himawan Pramana (Dhito) anaknya, Pramono akan memborong semua Rekom semua partai politik yang berujung pertarungan Dhito melawan bumbung kosong (kotak kosong) pada Pilkada Kediri 2020.

Kalau benar aksi borong semua Rekom semua partai itu dilakukan sama artinya keluarga besar Pramono Anung dan PDIP berusaha merusak sistem demokrasi di Kabupaten Kediri. Sebaliknya, kalau pola itu dilakulan, masyarakat kabupaten Kediri dari berbagai lapisan akan melakukan perlawanan besar besaran, semua tokoh di Kabupaten Kediri akan menyerukan menangkan bumbung kosong.

Sebenarnya upaya Pramono Anung untuk memborong rekom.semua partai di kabupaten Kediri yang berujung pada pertarungan Dhito melawan bumbung kosong, itu bukan karena PDIP hebat dan matang dalam berpolitik. ” Rencana membeli semua Rekom setelah Dhito mendapat rekom PDIP, sebenarnya tidak menguntunkan bagi PDIP, justru sebaliknya PDIP dikadali oleh Pramono, ” kata M.Mochid tokoh masyarakat Kediri.

Moechid menduga aksi memborong semua rekom.partai di Kabupaten Kediri karena bentuk ketakutan dari keluarga koloni Pramono Anung, kalau tidak membeli semua partai Dhito akan kalah. ” Pak Pram memaksakan kehendak memborong rekom takut kalah dia, karena informasinya hasil survey Dhito jeblok. la wong Dhito tidak dikenal oleh publik Kediri, yang kenal Dhito hanya keluarganya saja, ” tegasnya.

Publik Kediri Tolak Calon Karbitan

Pemaksaan terhadap Dhito untuk dalam pertarungan Pilkada 2020 merupakan preseden buruk bagi PDIP dan sistem demokrasi di Kediri, karena bagi masyarakat Kediri turunya rekom PDIP kepada Dhito merupakan awal rusaknya sistem demokrasi. ” Sering saya katakan, kok dipaksakan Dhito yang direkom apa PDIP sudah tidak ada kader yang siap pakai. Dhito itu kan anak kemarin sore yang masih mentah, yang belum tahu Kediri yang masyarakatnya majemuk dan dinamis, pokonya masyarakat Kediri menolak calon karbitan, ” tegas Moechid kepada pledoi.co

Melawan Lupa Pidato Warning Megawati.

Sambutan pengumuman Paslon Pilkada 2020 di Kantor DPP PDIP, Jakarta kemarin, Megawati Soekarnoputri berpesan, bahwa pada 2024 nanti perpolitikan nasional akan mengalami perubahan regenerasi kepemimpinan. ” Benar, kita-kita ini sudah fading away, yang musti maju itu, yang didorong itu anak-anak muda. Tapi berhentilah, kalau kalian punya anak, anaknya itu enggak, bisa jangan dipaksa paksa,” ujar Megawati pada Rabu (19/2/2020)

Megawati merasa kesal karena anak dipaksa-paksa menjadi pemimpin, sementara anak tersebut tidak mampu memimpin. Dia menyebut, seperti tidak ada orang lain saja. Sedangkan, di PDIP kader partai juga disebutnya anak-anak. “Kalau enggak anak’e, kalau ndak istrine, kalau enggak ponakane, loh nanti pasti ada yang bilang loh Ibu kan juga, tapi kan saya membuktikan. Saya enggak pernah, saya hanya, anak saya kamu jadilah sesuai dengan apa yang kamu jalankan,” ungkap Megawati.

Editor : Aji Amrullah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *