Ada Gelagat Pramono Anung Akan Membeli Rekom Semua Partai, Sistem Demokrasi Kabupaten Kediri Terancam Rusak Dan Mati

Kediri | pledoi.co

Kedatangan Menteri Sekertaris Kabinet (MenSesKab) Pramono Anung di Kediri sempat membuat kegaduhan politik di Kabupaten Kediri.

Betapa tidak, setelah mengeluarkan statemen terkait pencalonan anaknya Hanindhito Himawan Pramana yang katanya ditugaskan oleh PDIP untuk bertarung dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kabupaten Kediri 2020.

Bahkan, dalam forum yang sama yakni saat meresmikan Rusunawa Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Pramono Anung mengatakan, begitu rekomendasi dari PDIP turun kepada Dhito, Pramono akan segera berkomunikasi dengan pimpinan partai, ” Begitu rekom Hanindhito Himawan Pramana diputuskan oleh PDI Perjuangan, segera kita berkomunikasi dengan seluruh ketua umum parpol yang ada. Apapun kan ini teman-teman saya semua, yang sehari-hari juga ada di dalam kabinet, ” katanya Sabtu (15/4/2020)

Statemen Pramono itu ternyata direspon sangat sepat oleh para kader dan pengurus DPC PDIP Kabupaten Kediri, dengan istilah Koalisi Istana, artinya semua partai yang berada dibarisan istana akan dikendalikan oleh Pramono Anung untuk memenangkan Dhito dalam pertarungan Pilkada Kabupaten Kediri.

Sunaryo Wakil Ketua Bidang Kehormatan Partai DPC PDIP Kabupaten Kediri, bersama Hanindhito Himawa. Praman (Dhito)

Wakil Ketua Bidang Kehormatan Partai DPC PDIP Kabupaten Kediri sering mengumbar statemen, Rekom PDIP pasti turun kepada Dhito. ” Sudah dapat dipastikan rekom PDI akan turun pada mas Dhito, ini tinggal nunggu waktu saja, ” kata Sunaryo.

Kalau Rekom sudah turun ke Dhito, lanjut Sunaryo, akan didesain semua partai akan berkoalisi untuk mendukung anak Pramono Anung. ” Memang rencananya semua partai akan berkoalisi mendukung mas Dhito, itu namanya koalisi istana, ” tambah Sunaryo yang dengan bangga mengirim foto dirinya bersama Dhito.

Selain itu, Sunaryo mengisyaratkan, bila koalisi istana akan diberlakukan di Kabupaten Kediri, dan kemungkinan besar Dhito tidak ada lawan, karena semua partai tidak akan mengeluarkan rekom pada bakal calon bupati yang lain, sehingga Dhito akan melawan kotak kosong. ” Bisa bisa nantinya Dhito jago tunggal, musuhnya bumbung kosong (kotak kosong), ” urai Sunaryo.

Terkait statemen Pramono yang akan menhumpulkan semua ketua partai, memicu kekecewaan masyarakat kediri yang menginginkan sistem demokrasi di Kabupaten Kediri ini bangkit dalam Pilkada 2020. ” Omongannya Pramono Anung
yang akan mengumpulkan semua ketua umum partai politik agar merekomendasi anaknya menjadi calon tunggal bupati Kediri, itu tindakan arogan dan memaksakan kehendak, itu saya nilai bisa melukai hati warga Kabupaten Kediri, ” kata Ahmad Moechid salah seorang tokoh masyarakat Kabupaten Kediri kepada pledoi.co.

Melihat tindakan Pramono Anung tersebut, lanjut M.Moechid, sama dengan membunuh demokrasi yang sudah berkembang baik di Indonesia khususnya di Kediri. ” Jelas langkah politik Pramono Anung itu sama artinya mematikan kesempatan calon lain untuk bertarung secara adil, ” tegasnya.

Moechid merasa heran, dengan langkah politik yang dipakai oleh Pramono Anung, ” Ironis sekali, alam demokrasi di kabupaten Kediri dilenyapkan oleh ambisi politikus partai besar yang menggunakan nama Demokrasi, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ( PDIP), saya orang diluar partai Lo mas, saya hanya merasakan ada arogansi yang dilakukan pak Pram, ” Lanjutnya dengan nada kecewa.

Editor : Aji Amrullah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *