Bupati Copot Direktur RSUD Pare Diganti Anggota TP3, 3 Dokter Spesialis Akan Mundur

Kediri | pledoi.co

Pencopotan dr. Hermawan Chrisdiono Sp.P, dari jabatan Direktur Utama RSUD Pare dan digantikan Dr. dr. Ibnu Gunawan .MM akan menjadikan pertanyaam besar ada masyarakat, ada apa..?

Penggantian itu sempat mengejutkan masyarakat Kediri, karena dr. Ibnu merupakan anggota Tim Pertimbangan Percepatan Pembangunan (TP3) orang Dekat keluarga dinasti Sutrisno, dan bukam dari kalangan ASN.

Bupati Kediri dr.Hj.Haryanti Sutrisno ketika dikonfirmasi mengatakan, pengangkatan dr.Ibnu Gunawan tidak melanggar aturan, ” Pengang direktur RSUD Pare dari non ASN boleh saja, tidak melanggar aturan, tanyakan peraturanya kepada BKD, tanyakan kepada pak Sekda, ” kata Haryanti dengan mimik gemetar menahan emosi usai pelantikan diruang Joyonoyo Selasa (7/1/2020)

Terkait penggantian direktur RSUD Pare yang terkesam dipaksakan itu menjadi sorotan tajam dari kalangan DPRD Kabupaten Kediri.

Khusnul Arif anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Kediri dari Fraksi Nasdem.

Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Kediri Khusnul Arif mengatakan, penggantian direktur RSUD Pare itu membuktikan Bupati Kediri tidak percaya dengan kemampuan ASN dan para dokter yang bekerja di lingkungan rumah sakit. ” Memang sih tidak ada aturan yang melarang, tapi pengangkatan Direktur RSUD yang diambil dari selain ASN dan bukan dokter dilingkungan RSUD Pare yang jejang karirnya jelas, ” katanya.

Anggota dewan dari Fraksi Partai Nasdem ini mengaku khawatir pergantian direktur RSUD Pare itu menjadi preseden buruk dalam jenjang karir ASN. ” Hal ini bisa jadi akan menghambat jenjang karier para ASN, dan akan menciptakan situasi yg kurang nyaman dilingkungan RSUD Pare, ” tegas Khusnul Arif

Tokoh muda Nasdem ini juga mempertanyakan sikap bupati yang dinilai sewenang wenang dan mengabaikan jenjang karir dokter ASN. ” Dalam pengangkatan ini sapakah bupati sudah tidak percaya lagi dengan ASN dan para pejabat strukturalnya di lingkungan RSUD dan Dinas Kesehatan..?
Wallahu a’lam, ” tuturnya.

Dengan dicopotnya dr Hermawan Chrisdiono Sp.P, maka RSUD Pare kini tidak memiliki lagi dokter ahli paru paru, sehingga akan mempengaruhi pelayanan terhadap masyarakat.

Selain itu, Khusmul arif mempertanyakan keberadaan dr. Ibnu yang selama ini menjabat anggota TP3.” Kalau dia masih menjabat anggota TP3, merangkap direktur rumah sakit, Ibnu menerima dua gaji seksligus dari APBD. berarti terjadi dobel anggaran, Itu yang tidak boleh, nanti akan kita tanyakan kepada bupati, ” tegas Khusnul Arif.

Beredar kabar, dengan dipilihnya DR.dr.Ibnu sebagai direktur akan berdampak pada kinerja diinternal RSUD Pare. Karena direktur baru itu memiliki rekam jejak yang kurang bagus, sejak tahun 2010 telah pindah kerja 4 kali, yakni bekerja di RS HVA pare keluar pindah ke RS.Mojokerto, pindang lagi ke Jakarta, dan balik lagi ke RS HVA Pare lagi.

Bahkan, akibat tindakan nepotisme dalam penempatan direktur ini, kabarnya 3 dokter spesialis di RSUD Pare ancang ancang akan mengundurkan diri, karena tidak nyaman dengan keberadaan dr. Ibnu.

Sedangkan dr. Hermawan Chrisdiono Sp.P yang beberapa bulan lahi memasuki masa pensiun ditempatkan sebagai Staf Akli Bupati bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan.

Editor : Aji Amrullah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *