Honorer K-2,  Non K Nganjuk, Dapatkan Uang Transport

 

Nganjuk |  pledoi.co
Meskipun GTT/PTT K-1, K-2 dan Non K tidak mendapatkan THR (Tunjangan Hari Raya) dari Pemerintah Kabupaten Nganjuk, namun ada
kabar gembira menjelang hari lebaran ini. Pasalnya, mereka yang biasa disebut K-2 dan Non K, bakal mendapatkan dana segar, berupa uang transport secara tunai. Hal ini disampaikan oleh Supriyono, Ketua FPG (Forum Peduli Guru Nganjuk, pada Kamis (7/6/2018).
Diterangkan oleh Supriyono,
sesuai data, jumlah mereka
ada 3.091 orang di tahun Anggaran 2018 ini. Dan sebenarnya pada Tahun 2017 dalam PAK sudah di dok Rp. 500.000/tahun, namun sampai sekarang dana bantuan Uang Transport tersebut belum Cair.Sedangkan waktu itu dalam pembahasan anggaran Tahun 2018 , GTT/PTT K-1 dianggarkan Rp 1.000.000/bulan, K-2 senilai Rp 500.000/bulan dan NON K dianggar Rp 1.500.000/tahunnya. “Untuk Tunjangan K-1 anggaran 2018 sebesar Rp 1.000.000/bulan, setiap bulan sudah dicairkan. Akantetapi untuk bantuan Uang transport K-2 dan Non K belum bisa dicairkan. Namun Rencananya baru besuk Hari Jum’at 8 Juni 2018, dirapel,” terangnya.
Disampaikan juga, untuk bantuan uang transport Non K sebesar Rp 1.500.000,- dalam 1 tahun itu, rencana akan dibayarkan 3 kali. Jadi besuk itu, Non K akan mendapatkan rapelan tahap kesatu sebesar 500 ribu rupiah per orang. “Rapelan bantuan uang transport ini, janganlah diplintir menjadi uang THR, kasihan mereka. Apalagi yang Non K, mereka ‘dihargai’ empat ribu per hari, yang untuk beli bensin 1/2 liter saja tidak cukup,” pinta Priyono.
Pegiat dunia pendidikan yang biasa dipanggil Pri Rangket ini, prihatin dengan nasib Non K, yang sebagian besar sarjana S1. Karena mereka hanya mendapat ‘upah’ senilai 1,5 juta per tahun. Dan pencairannya diberikan secara bertahap empat bulan sekali. Dan 4 bulan sekali, mereka terima ‘upah’ sejumlah 500 ribu rupiah. “Kalau dihitung, setiap bulan mereka ini terima 125 ribu rupiah. Jadi ‘gaji’ mereka setiap hari hanya empat ribu rupiah. Ini faktanya,” ucap Pri Rangket.
Padahal tugas GTT Non K sama dengan tugas guru PNS, tapi nasibnya berbeda. Disisi lain, mereka juga punya istri dan anak, jadi bisa dibayangkan kalau hanya menggantungkan dari honor sekolah yang besarnya kisaran Rp 150.000 – Rp 200.000 /bulan. “Itupun tidak setiap bulan menerima tunjangan, karena masih menunggu dana BOS cair 3 bulan sekali. Jadi kalau tidak punya penghasilan lainnya, terus istri dan anaknya mau dikasih makan apa.?,” ujarnya.
Supriyono, Ketua LSM Mapak Nganjuk ini, mengaku sudah mencoba hearing dengan DPRD Nganjuk Komisi 4, untuk memperjuangkan nasib dan kesejahteraan mereka, sebisa mungkin minimal UMR. “Tapi kenyataannya, sampai sekarang tidak ada jluntrungnya,” serunya.
Dia memperkirakan, karena ada aturan pemerintah yaitu PP No 48 tahun 2005, yang salah satu pasal memuat larangan untuk mengangkat GTT/PTT baru. “Tapi itu kan peraturan yang sudah 13 tahun yang lalu, memang cocok utk waktu itu. Tapi untuk sekarang, sudah tidak sesuai lagi, karena di sekolah SD, jumlah guru PNS rata -rata tiga orang, sebab tiap bulan terus banyak Guru PNS yang pensiun,” jlentrehnya.
Guru di salahsatu lembaga sekolah dasar di wilayah Kecamatan Tanjunganom ini, mengajak kalangan pemerhati dunia pendidikan yg ada di Nganjuk, untuk
mencarikan solusi, supaya pendidikan di Nganjuk, bisa maju. Dan salah satu permasalahannya adalah kesejahteraan para GTT ini yang harus segera diselesaikan lebih dulu. Sebab pemerintah, kata Pri Rangket lebih mementingkan pembangunan insfrastruktur dari pada membangun dunia pendidikan, terbukti setiap ada permintaan tambahan guru dari daerah, selalu alasan tidak ada anggaran sebab Anggaran pemerintah terbatas. Dan pemerintah seharusnya konsisten, serta
sederhana saja, tidak usah ada pengangkatan CPNS. Jadi, guru baru ganti istilah pengangkatan guru pengganti pensiun sesuai dengan kebutuhan. “Sebab jika angkatan guru baru tidak ada, dan tidak boleh mengangkat GTT. Terus anak-anak siapa yang mengajar. Pikir sendiri dong.?.”pungkasnya.
Reporter : Pakde Kamto
Editor.     : Aji Amrullah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *